Ketika selimut malam mulai menyelimuti langit menggantikan tugas mentari. Sehabis menunaikan kewajiban 5 waktu. Aku terduduk kembali disisi ranjang ketika tanpa sengaja menatap sosok sendiri dalam cermin rias dikamar. Begitu banyaknya perubahan yang kadang karena kesibukan tidak aku sadari selain bentuk tubuh yang nyata2 dapat terasa dari busana yang semakin bertambah ukurannya.
Aku tahu waktu adalah guru terbaik untuk pembelajaran dan pertanyaan apapun. Dan waktu juga telah menunjukkan betapa usia tak bisa berdusta. Seberapa mahir aku menutupi perubahan itu ? dengan dempulan bedak disana sini, busana yang up to date, hingga tingkah laku yang mencerminkan jiwa muda, semua tidak akan bertahan lama. Terus apa yang tersisa ? kelelahan dan satu pertanyaan, Kedewasaan seperti apa yang kuinginkan ? Tentunya dalam usia 35 tahun aku tak ingin disebut menjadi tua. Jadi kata dewasa cukup adil.
Apakah aku ingin menjadi sosok wanita 3 anak yang tetap menawan ? ( ha ha nulisnya aja malu) dengan berat badan segini itu nggak mungkin banget. Atau ingin menjadi lebih bijaksana ? kalau kupikir aku bijaksana orang mungkin beranggapan aku sok dewasa jadi ngk bisa juga. Mau jadi power ranger pink ? wkwkwk sejuta anak dibelahan dunia manapun akan complain dan trauma.
Seribu keinginan untuk dewasa seperti apa ada ditangan kita. Ini bukan pertanyaan multiple choice lagi yang cuma menyediakan 4 pilihan tapi essay yang memerlukan jawaban dengan alasan dan ulasan “kenapa aku memilih ini”.
Gurat2 halus di wajah dan kelelahan fisik, baik yang terlihat dari pantulan kaca ataupun tidak terlihat. Membuat aku merinding. Aku bisa saja tidak akan pernah tahu akan seperti apa aku nanti seiring perjalanan usia. Karena bisa aja besok pagi aku tengah digodain ama malaikat izroil sang pencabut nyawa. Atau ketika aku ditoilet nanti terpeleset dan langsung koit.
Sumpeh loh, aku murni nggak punya syndrome Gerascophobia, karena lingkaran hidup mulai dari lahir – balita – remaja – dewasa – tua dan mati itu pasti terjadi, atau barangkali syndrome Necrophobia ? tapi siapa sih orang yang nggak takut mati.
Kalau mau jujur aku sempat berjalan pada jalur penghancuran diri. Hanya aku mengambil jalur lambat. Sehingga dalam lelah kesadaran muncul “mengapa harus membuang2 waktu ? aku tinggal beli silet seharga 1000 perak atau kalau pengen heboh di surat kabar lokal, coba2 loncat indah di jembatan barelang oke juga. Alhamdullilah fase ababil ( anak bener2 labil ) itu telah lewat, nggak akan terlintas lagi deh.
Ya sudahlah, Aku tak ingin membuat plot hidupku seperti apa nantinya bahkan nggak ingin tahu. Untuk saat ini peranku adalah seorang ibu tak sempurna. Seorang istri cerewet yang kadang suka ngibulin suami tapi berusaha untuk setia ( ho ho ho, Insya Allah ) mungkin bukan teman yang menyenangkan bagi sebahgian orang tapi aku memang bukan pelawak yang bisa membuat orang tertawa terus2an. Semua kuserahkan pada waktu dan takdir yang sudah tergaris. Apa yang bisa kulakukan hari ini kulakukan dengan maksimal kalaupun bisa menjadi tunas baru untuk hari esok, lusa dan esok lusa … Alhamdullilah yah.
Satu hal yang pasti aku takutkan, aku takut menjadi tua sendiri. Karena itu with my way aku membesarkan anak2ku dengan TLC ( Tender Love Care ) yang tidak akan pernah habis seperti mata air di puncak gunung Gamalama. Agar kalau aku sempat melihat mereka tumbuh besar, mereka juga tulus mengasihi, semata2 bukan karena iba melihat ketua-anku tapi karena kasih sayang yang semoga tetap tertanam di hati mereka . Amin ya Rob
Jadi Ingat lagunya Melly Goeslaw, JIKA AKU MENJADI .................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar