Rabu, 05 September 2012

Pertemuan


Pertemuan ini tidak disengaja. Kalau dihitung berapa kali aku menginjakkan kaki di tempat ini? tak terhitung! Tapi pertemuan pagi itu merubah suasana hatiku yang awalnya penuh semangat menjalani rutinitas pagi merosot ke titik derjat terendah.

Aku percaya ...
Aku percaya bahwa tak satupun hal yang terjadi di dunia ini tanpa ada tujuan tertentu. Even itu setitik debu yang tersapu oleh hembusan angin, kelopak yang gugur hingga peristiwa yang nyata2 membuat perubahan.

Aku percaya bahwa sebuah momen singkat, sebuah fragmen yang tampak tidak berarti bagi sebagian orang bisa jadi adalah sebuah katalis yang bisa mengubah konstelasi hidup.

Pertemuanku pagi ini dengannya dimulai ketika aku berniat mau menyerahkan beberapa document ke wisma Batamindo. Ku parkirkan scopyku diparkiran samping wisma yang pagi itu cukup padat. Dari jauh kulihat ada celah yang masih kosong, secepatnya ku tarik gas dan meletakkan kendaraanku disana. Bergegas aku melangkah dengan mengepit berkas dan tangan yang sibuk memencet2 tombol Hp. Hingga tanpa sadar nyaris menubruk sosok yang berjalan didepanku. Hpku jatuh. Batery dan casingnya lepas berserakan. Kok bisa ? padahal nyaris nubruk artinya ngk nyampe tabrakan kan? Hp ku jatuh karena keterkejutan luar biasa saat itu. Aku terpana  lebih tepatnya ternganga menatap sosok yang juga terdiam didepanku. Kalo ada laler saat itu pasti dengan leluasa ia masuk kerongga mulutku.

Dalam kebingungan dan rasa gugup yang menguasai segera kuambil Hp yang jatuh. Aku berlari bahkan merasa setengah melayang kedalam wisma. Tak kubalas senyuman security yang berdiri di depan pintu masuk. Setibanya didalam aku mencari kursi di bagian samping wisma. Letaknya agak menjorok kedalam sehingga cukup aman untuk menenangkan diri.

Ampun.. ternyata bagian depan Hp ku ngk keambil waktu jatuh tadi !. Aku semakin bingung memutuskan harus balik kesana lagi atau menunggu sesaat. Tapi memikirkan kemungkinan dia masih disana membuat aku mengurungkan niat.
' biarin deh, bahkan kalo hancur keinjak orang juga biarin', gumanku kesal. Aku menenangkan detak jantungku yang tak beraturan dan mengapus keringat yang terasa membanjir di kening.

'kok bisa ya dia nyampe di kota ini ?' pertanyaan ini sekarang yang bermain di benakku. Laki2 dari masa laluku. Laki2 yang dulu membuat hidupku bahagia dan luka. Awalnya kami bersahabat saja, bahkan awalnya dia adalah salah satu pelatih silat ditempat aku mempelajari ilmu bela diri. Seiring waktu kami menemukan hal2 yang membuat percakapan menjadi hal yang menyenangkan. Mempunyai kebiasaan dan selera yang sama membuat aku dan dia semakin sering menghabiskan waktu diluar jam latihan.

Hingga, aku ingat betul sehabis menerima rapor. Tau2 dia muncul di sekolahku. Aku kaget tapi senang namun ada sedikit malu sama teman. Pasti mereka pikir ini pacarku.
' sudah ngambil rapor ?'.  Ia tersenyum. Aku ingat dia memakai kemeja abu2 (dia suka banget warna abu2)
' udah, ngapain kamu kesini ?', aku sok judes sambil nahan malu karena disuitin sama temen.
' mau jemput kamu'.
' wekkk', aku meletin lidah ke dia. ' jadi tukang ojeg ya sekarang ? ada ayahku didalam kelas lagi dengerin pengarahan guru', jelas ku masih dengan sok judes tapi senyum dibibirku ngk bisa ku tahan. Entah kenapa rasanya senang sekali melihat dia ada disekolahku.
' bilang aja kamu ada perlu sama temen, aku mau ngajak kamu keluar'. ditariknya ujung tangan bajuku. Mimik mukanya dibuat lucu, dan dia memang lucu, humoris dan menyenangkan.

Kebiasaannya yang ngk berubah. Kalo ada perlu, atau ketika aku tidak konsen dengan percakapannya, atau ketika kami mau menyeberang jalan. paaastiiii.. dia narik ujung bajuku. Awalnya aku rada tersinggung. Emang aku najis mughalazoh gitu?
' napa sih suka banget narik2 bajuku ? tanyaku waktu itu, ketika aku tidak kuat lagi menyimpan rasa ingin tahu kebiasaanya itu.
' habis kalo narik hidungmu susah, ngk ada batangnya' dia tertawa ngakak. Tak sadar aku megang hidungku yang emang rada pesek tapi cepat melepasnya kembali. dia makin ngakak. kupukul dia keras2, dia menghindar dengan suaranya yang membahana. Udah, habis itu aku ngk mau nanya lagi, terserah dia dengan kebiasaanya itu.

ok kembali ke laptop.

'emangnya mau kemana sih ?', tanyaku heran. kayaknya ada sesuatu yang penting sampai2 harus datang kesekolahku.
' sudah, kamu kedalam dulu saja pamit sama ayahmu habis itu ikut aku. Aku menurut dan tak lama kami sudah berada di atas roda duanya.
' kita mau kemana ?', tanyaku lagi. Ia tak menjawab. Mungkin ngk denger. Kutanya sekali lagi. Tapi tetap ngk ada reaksi. Kucubit pinggangnya keras2.
' Ida, ngk usah ngomong apa2 dulu. Nanti udah sampai di tempat tujuan baru kita bicara ya'. Dia berteriak habis itu bener2 diam sampe ditujuan.

Ya sudah. Walaupun aku merasakan sikapnya agak aneh aku nurut lagi. Ternyata ia membawaku keperpustakaan wilayah pekanbaru. Aku kegirangan. ini memang tempat favoritku. selain lokasinya yang bagus, setiap datang kesini aku merasa seperti anak kecil yang berada digudang mainan. Apalgi untuk mencapai ketempat ini agak sulit bagiku. Jauh. Memang ada angkutan tapi tetap harus ditambah jalan kaki lagi. Aneh sekali pemerintah kota pekanbaru memilih lokasi yg sulit dijangkau.

Dan kembali keheranan mengusikku ketika ia bukannya mengajak ku masuk kedalam melainkan membimbingku ke samping dan terus kebelakang gedung. See !!! Ya Allah... pemandangannya bagus sekali dari sini. Aku tahu lokasi perpustkaan ini memang bagus dan sepi, sangat mendukung untuk orang2 yang membutuhkan konsentrasi guna mencari materi kebutuhan sekolah atau akademis mereka, atau sekedar membaca menghabiskan waktu. Hanya aku tak mengira kalau salah satu sudut luar perpustakaan ini mempunyai pemandangan yang indah.

Disebuah bangku yang terbuat dari batu ia menunjuk menyuruhku duduk disebelahnya
' ada apa sih ?', aku mulai jengkel dengan sikap misteriusnya
' ida, bisa ngk  maksimal 1 jam ini kita ngomong serius. Nggak ada jawaban2 konyol, nggak ada lucu2an dulu? aku mau ngomongin hal penting. Dan sangat 'haram' dibuat main2.'
Aku ngakak, lucu melihat wajahnya yg serius. Gimana ya ? 80 persen dialog kami adalah saling mencela dengan unsur komedi halus, sisanya dia banyak mengajari aku tentang hal2 yang aku tak tahu. Jarak usia kami terpaut 5 tahun. Aku duduk di bangku SMA kelas 1 ketika pertama mengenalnya. Sementara dia kuliah semester 6 di PTN pekanbaru. Sekarang aku akan naik ke kelas 3 dan ia sedang menyusun skripsi. Menurutku dia pintar sangat pintar. Dan aku suka kemampuannya menyambut sifat ego, keingintahuan dan sarkasme dalam diriku. Ia bisa membalikkan pisau tajam yg khunuskan padanya hingga berbalik ke arahku dan menjadikan hal itu sebagai permainan olok2 kami. Tidak ada rasa lain yang tumbuh selama pertemanan kami. Entah orang melihat dan menterjemahkannya.

Tapi hari ini.. dia terasa sangat berbeda. Dan sekarang dia duduk terdiam menunggu jawabanku atas Pernyataan Cintanya.

'aku harus jawab apa?'. Akhirnya pecah juga keheningan yang membingungkan ini. Ku pegang erat buku dengan cover animasi laut darinya. Bermacam photoku, dia dan kami yang ditempelnya disana. Aku bahkan tidak ingat kapan dia mengambilnya. Serta tulisan2 yang membuat aku malu sendiri sekilas membacanya tadi.
'kupikir kita sahabat yang sempurna, tanpa harus ada begini2 an', tambahku.
'kamu sungguh tidak pernah merasakan kedekatan yang berbeda selain sebagai teman denganku?', tanyanya pelan. Aku menggeleng. Dia menghembuskan nafas pelan. Tiba2 ia memegang ujung jari2ku. Dadaku berdesir aneh. Kebiasaanya menarik bajuku membuat ku tak pernah ingat apakah dia pernah menyentuhku ? entah itu sengaja atau tidak. Pernah ngak ya? aku berfikir keras. Rasanya ngk. Tapi kalaupun jawabnya pernah. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti sekarang ini
' adakah yang terasa berbeda ketika kupegang tanganmu seperti ini?', ia menataku dalam2. Khawatir melihat ada kebohongan yang aku sembunyikan. Aku berusaha menepiskan tangannya. Pikiran jelek sempat melintas dibenakku. Duh, apakah dia akan memperkosaku ? bisakah aku melawan ilmunya secara dia adalah pelatihku. Gila !! kok aku mikirnya kesana. kubuang jauh2 pikiran itu.
' nggak,' suaraku terdengar begitu parau dan gelisah
'apa maksudnya nggak?' ia mendekatkan kepalanya kearahku menuntut kejujuran
' aku nggak ngerti pertanyaanmu,' kubuang pandanganku kearah lain. Dadaku terasa sesak. Kedekatan fisik dengannya kali ini membuat aku kehilangan oksigen untuk bernafas. Dia seperti vacum, menyedot udara yang menjadi bagianku. Kali ini dia menggenggam tanganku penuh2.
' benar kamu tidak mengerti dengan pertanyaanku?'. Di remasnya lembut tanganku. Aku semakin tak tertahankan. Dadaku semakin berdebar kencang. Pipiku rasanya panas terbakar. Ia tersenyum culas.
' ketika aku memegang tanganmu seperti ini, aku tahu perasaan mu. Tapi kamu tidak harus menjawab sekarang. Aku hanya perlu mengungkapkan ini. Karena mengulur2 waktu hanya akan membuat aku tersiksa dengan rasa ini. Aku tetap menjadi sahabatmu, tetapi ijinkan aku juga bisa menjadi kekasihmu. Bisa?'. Ditarik2nya bajuku.

So what, sepertinya aku juga punya rasa yang sama. Hanya mungkin tidak menyadarinya. Cinta dan suka hanya dibatasi selaput tipis. Tidak ada persahabatan sejati antara 2 orang yang berbeda kelamin.
' oke, baiklah. aku bisa mencobanya ?'. Tapi satu hal. Mulai hari ini aku nggk mau kamu narik2 bajuku lagi. Entah kenapa kata2 itu yang terlontar dari mulutku. Konyol....
Ia tersenyum menahan tawa, tapi akhirnya lepas. Aku jengkel setengah mati.
' deal, mulai hari ini aku ngk akan narik2 bajumu lagi'.

Persahabatan itu memang berubah status. Dari seorang teman menjadi kekasihku. Hubungan kami tetap seperti biasa. Saling mengolok2 dan melontarkan sarkasme pedas. Hingga suatu peristiwa membuat kami harus PUTUS. Sangat menyakitkan bagiku saat itu. Bahkan berpuluh tahun sudah berlalu peristiwa itu tetap sakit bila diingat lagi.

Aku nggk tahu. Entah karena dosanya terhadapku ternyata hingga saat ini dia belum menikah juga. Kurasa umurnya sudah 40 tahun lebih saat ini. Atau memang belum jodoh aja kali. Yang aku tidak sangka ternyata perasaan berdosanya padaku membuat aku menyesal dulu telah menyumpahinya. Aku terganggu dengan permintaan maafnya yang membabi buta beberapa bulan ini lewat telp. Nomorku ia dapat dari temenku yang  'tak tega' (aku harus minta maaf secepatnya sama dia atas kemurkaanku) .  Tapi sejujurnya aku mulai terganggu karena debar yang kurasakan dulu sekarang terasa lagi. Berulang kali ku katakan, ' aku telah memaafkanmu ' tapi dia tetap tak yakin sebelum bertemu langsung denganku. Aku tidak bisa. Aku ingin, tapi tidak bisa dan .. tidak boleh.

Demi Tuhan. Apa yang membuat langkahnya bisa sampai di kota batam ini ? dan  hari ini aku benar2 tak kuasa menolak permintaanya untuk bertemu sabtu besok.  Aku kasihan sekaligus juga tertantang ingin menguji dinding kesetiaanku. Oke Fa, sampai ketemu nanti ya. Mungkin aku akan bawa Arik untuk mendampingku. Biar aman, hehehe....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar