Sesampainya dirumah laki2 itu menghempaskan tubuh lelah itu di pembaringan dingin yang terasa berabad2 beku nyaris tak tersentuh oleh hangatnya gairah. Diraihnya kembali surat itu :
'Maaf bang, Saya mencintai istri anda' kalimat pembuka dari beberapa paragraf yang tertulis di kertas putih HVS. Isi selanjutnya tak perlu dibaca ulang karena kalimat pembuka sudah menyimpulkan apa isi surat itu. Laki2 itu meremas rambutnya, keningnya berkerut tajam. Dia ragu apakah sebaiknya niat untuk memberikan surat ini jadi ia laksanakan atau mungkin lewat telp adalah cara terbaik bila memikirkan reaksi tiba2 dari yang punya istri. Tapi ia toh, tidak bermaksud merebut kedudukan sang suami dari takhta kepala keluarga. Dia hanya ingin menyampaikan luapan perasaannya yang sudah tidak terbendung lagi.
Kalau dipikir2, cara ini memang gila dan 'berani'. Suami mana sih yang tidak akan bereaksi keras mendengar istrinya dicintai laki2 lain. Meskipun belum tentu sang istri mempunyai perasaan yang sama. Tapi nalar dan akal sehat sudah lama hilang dari benaknya.
" Akh ... aku memang pecundang !! " teriaknya parau. Tak lama kemudian tong sampah kecil disudut kamarnya kembali terisi oleh remukan kertas putih yang sudah penuh dengan isi kalimat pembukanya persis sama : 'Maaf bang, saya mencintai istri anda....'
(dagelan kosong)