Senin, 25 Februari 2013

Mencari Orang Yang Tepat

Menemukan seorang untuk mencurahkan isi hati merupakan suatu hal yang sangat membahagiakan. Marilah kita simak, orang seperti apa yang merupakan pasangan paling ideal bagi orang-orang terkenal di bawah ini.

Di dalam acara televisi "Seni Kehidupan", pembawa acara bertanya pada seorang tokoh yang terkenal, "Sudah berusia 40 tahun mengapa belum menikah?" Sambil tersenyum ia menjawab: "Belum menemukan yang cocok."

"Ingin mencari yang seperti apa?" Setelah berpikir sejenak ia menjawab, "Mencari seorang yang setiap saat dapat diajak ngobrol!"

Pembawa acara tertawa: "Bukankah ini sangat mudah?" Tokoh tersebut menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat, dan berkata serius: "Tidak mudah! Tidak mudah, untuk beberapa jenis pembicaraan, pada waktu tertentu, bagi orang tertentu. Menemukan seorang yang dapat Anda ajak ngobrol, tidaklah mudah!"

Seorang lagi adalah Kangxi (Dinasti Qing) dalam film serial tv "Kaisar Besar Kangxi". Kangxi memiliki 3.000 harem dalam istananya, namun yang paling disayangi adalah selir Rong.

Kata-kata yang paling suka diucapkan Kaisar ketika mengunjungi selir Rong adalah, "Aku ingin berbincang denganmu!" kemudian ia menumpahkan perasaan dari lubuk hatinya, baik mengenai urusan negara maupun rumah-tangga. Sampai pada akhirnya, karena terpaksa melepaskan selir Rong, acap kali karena kebiasaan ini, ketika sedang bermuram hati selalu ingin mengunjungi selir Rong. Namun orangnya sudah tiada, harem itu terasa kosong. Seorang yang mulia seperti kaisar besar sepanjang zaman ini bahkan tidak mempunyai orang yang dapat ia ajak bincang!

Dua orang sukses ini sama-sama hanya mensyaratkan seorang kekasih yang bisa diajak berbincang! Bila dipikirkan memanglah demikian: "Sebesar apapun urusan Anda, semeriah apapun, Anda juga merupakan seorang manusia, manusia biasa yang memiliki emosi dan nafsu keinginan. Hidup di samping seorang yang sangat akrab, yang mengerti secara mendalam pikiran dan perasaan Anda, dengan berkomunikasi dan berhubungan dengannya, maka Anda tidak akan lagi merasakan sendirian dan kesepian."

Saya pernah membaca sebuah perkataan sebagai berikut: "Carilah pasangan yang Anda suka ajak berbincang-bincang, karena ketika setelah mencapai usia lanjut, Anda akan menemukan bahwa seorang yang suka berbincang-bincang memiliki kelebihan yang paling unggul."

Pada waktu itu saya mengira ini merupakan perasaan hati seorang perempuan, namun sekarang kelihatannya bukan hanya seorang perempuan, seorang pria pun bahkan memiliki tuntutan yang lebih besar mengenai hal ini. Sebab itu carilah seorang pasangan yang Anda suka ajak bicara dengannya dan memiliki minat yang sama.

Dengan bisa menggenggam tangan seorang yang kapan pun dan di mana pun Anda ingin berbincang-bincang dengan tiada habisnya, maka Anda telah memiliki kebahagiaan yang bahkan tidak dimiliki Kaisar Kangxi!

Minggu, 24 Februari 2013

Nostalgila Masa SMP


Kalau ngomongin HUMOR. Aku paling semangat. Bukan karena wajahku sa-ngat ku-rang lu-cu (udah pasti itu mah) sehingga, aku terpaksa harus mempunyai selera humor yang baik. Namun selera ini udah melekat erat dari lahir (selain selera makan tentunya). Kata nyokap, aku lahir dalam keadaan tersenyum. Hebat ngk tuh? biasanya kalo bayi2 normal begitu muncrat bawaannya kan pengen nangis. Ada yg owek owek, owak owak juga ada yg ea ea.

Dari kecil bawaannya udah ..Rocker!!!
Tapi kadang bisa feminim (tergantung bayaran)
(eh, 'ea' itu bahasa anak alay kan? yg artinya 'iya'). Ntar bakalan aku buat post sendiri deh buat ngebahas bahasa anak2 alay ini ya. 

Dokter dan para perawat pun sampai tertegun hingga terkagum2 melihat penampakanku dengan style eksklusif ini. Mereka rebutan minta photo bareng dgn berbagai pose. Tentunya sambil gendong aku (kan aku aktor utamanya) berikut gaya photo mereka :
1. bibirnya dimonyongin (sok imut). 
2. mata melotot ke atas terus dijepretnya juga dari atas (hasilnya kayak orang cacingan).
3. Peace man, gaya dua jari.

'Buat upload di tumblr...' pas ditanya potonya untuk apa. 'FB hanya untuk menengah kebawah,' tambah  mereka lagi.

Tapi itu sih cerita ibuku. Bener atau ngk nya suruh pak guru yg kasih nilai, bener berapa salah berapa. Kalo salah semua, siap2 remedial ya.

And then, ngomongin selera humor aku punya beberapa temen yang senasib sependeritaan tapi tidak secelanaan ya (beuh, jorok). Salah satunya, Fitri. Temen SMP ku yang satu ini punya body 11 12 ama ku. Kami sama2 hancur. Baik dalam pengertian harfiah atau kiasan. Aku menganggap ini sebuah humor yang Tuhan ciptakan untuk ku dan sohibku ini. Saling mengolok postur tubuh yg gembrot tanpa sakit hati. Sama2 seneng baca cerita dan nonton film percintaan (zaman dulu kayak ginian untuk ukuran anak smp masih tabu loh)  Meski ada persaingan tak kasat mata bahwa masing2 merasa seksi dibanding yang satunya. Lihatnya pake lobang sumpit. (itu kalo sumpit ada lobangnya)

Iya kan fit.... ngaku aja

Nah. selain persamaan2 diatas, yang paling sama lagi adalah ya humor kita itu. Hal2 remeh sering membuat kami terpingkal2. Guru ngapus papan tulis, goreng tahu yang bentuknya aneh, kucing tebirit2 dikejar anjing. Hingga humor yg betul2 pantas buat di ketawain. chemistri itu sangat kuat mengalir (sungai kale) diantara kami. Sehingga hanya dg satu lirikan saja kita bisa kompakan saling senyum ato ketawa ngakak.

Namun yg paling ku ingat (sebenarnya malah ngk pengen ingat) kejadian sewaktu pulang sekolah. Kita naik angkot yg didalamnya udah ada beberapa penumpang. Begitu blek. Duduk. Didepan ada pemuda tanggung mungkin umur 17 an gitu deh. Dan dia ngk bakal jadi sasaran empuk ketawaan kalo wajahnya ngk kayak gitu (seperti orang ketakutan ketahuan habis ngintip)

kok tahu? mang pernah ngintip ya?
Enak aja
nah itu?
(pletak)
kira2 kayak gitu loh (emosi)

back to laptop

Karena wajahnya kayak gitu. aku jadi curiga, some thing wrong? tapi tuh cowok segera memalingkan muka jauh banget.... 'Kesempatan', bisikku (eit jgn ngeres dulu) kesempatan melihat dari ujung rambut ampe ujung jempolnya terbuka lebar... (tentu saja melihat dg sudut mata alias curi2 pandang)  Wajahnya? rada pucat. Body? rada kurus kayak papan gilasan baju. Pas kebawah. hey... what's that? itu celana apa kulot ya? kok lebar gitu? meski dia berusaha melipat celananya menjadi ketat tetap terlihat aneh.Pandanganku ngk bisa nyuri2 lagi tapi udah terang2an melihat ke sisi bawahnya. Dan.. masih dalam keheranan, terdengar bunyi aneh dari sebelahku. "Idih, pasti fitri kentut lagi nih". pikirku bete. Dan aku siap membelalakkan mata kepadanya ketika kulihat wajah bulatnya udah merah padam menahan tawa.

wkkkwkkkkkwkkkk............ tawa kamipun  pecah tanpa control

'Kiri bang..." bentak cowok itu pada kenek. Si kenek sebagai perpanjangan tangan supir bukannya ngomong : 'Kiri pir ( supir ya bukan tapir )..." malah kebinunan melihat kami ngakak tak terkendali, fitri malah melorot sampai ke lantai angkot.

Untung telinga si supir cukup awas. Angkot berhenti. Cowok tersebut turun, malah nyaris loncat kayak tomcat. Itu kulot  tanpa malu2 langsung berkibar.... hahahaha......

Dan.... tanpa diminta, sang kodok eh sang kenek ikut gabung ngakak bersama kami. Juga penumpang lain. Sakit perut dah....Lagian aneh juga ya tuh cowok, kalo dia merasa ngak nyaman kenapa dia mesti make kulot. Apa dipaksa ama nyokapnya? atau mungkin dia agen FBI yg lagi nyamar....ngk tahu juga deh.

Terus mengapa aku ngk mau ngingatnya. Kan lucu abis tuh? 

Huh... ini karena aku ngk tahan liat fitri yg ngakak ampe guling2 diangkot (hiperbola) akhirnya tanpa sadar aku kencing di celana... MAkkkkkkk.







Burung Hantu

Burung hantu muram mengadu pada malam
'Dosa apa buyutku hingga duniaku hanya pada saat mentari terbenam?'

Kamis, 21 Februari 2013

Umat Yang Dirindukan Rasullulah

Suasana di majelis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian.

Seulas senyuman yang sedia terukir di bibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna. “Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? ” Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut pikiran.

“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah.

“Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula. Rasulullah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian baginda bersuara:

“Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka.”

Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ‘ikhwan’ baginda: “Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah.

“Malaikat,” jawab sahabat.

“Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah, sedangkan mereka senantiasa hampir dengan Allah,” jelas Rasulullah. Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, ” Para nabi.”

“Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”

“Mungkin kami,” celah seorang sahabat.

“Bagaimana kamu tidak beriman, sedangkan aku berada di tengah-tengah kamu,” pintas Rasulullah menyangkal hujah sahabatnya itu.

“Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.

“Kalau kamu ingin tahu siapa mereka? Mereka ialah umatku yang hidup selepas ku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku,” jelas Rasulullah.

“Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka,” ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.

Begitulah nilaian Tuhan. Bukan jarak dan masa yang menjadi ukuran. Bukan bertemu wajah itu syarat untuk membuahkan cinta yang suci. Pengorbanan dan kesungguhan untuk mendambakan diri menjadi kekasih kepada kekasih-Nya itu, diukur pada hati dan buktikan dengan kesungguhan beramal dengan Sunahnya.

Pada kita yang bersungguh-sungguh mau menjadi kekasih kepada kekasih Allah itu, wajarlah bagi kita untuk mengikis cinta-cinta yang lain. Cinta yang dapat merenggangkan hubungan hati kita dengan baginda Rasulullah.

(Dikutip dari Catatan Faris M )

Kamis, 14 Februari 2013

Dalam tanda tanya

Seperti riak air ..
Penuh misteri, apa sih didalamnya?
Seperti pelangi ..
Dimana lekuknya berakhir ?
Aku bertanya
Tapi siapa yang sudi menjawab ?
Luruh bersama waktu yang sangat basi
Entah esok atau lusa
Ujung pelangi dan riak air tetap misteri bagiku