Manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Pernah dengar Hukum Gossen ? Dalam hukum Gossen dikatakan bila suatu kebutuhan itu dipenuhi terus menerus maka kita akan merasa bosan. Pemenuhan kebutuhan untuk yang pertama kalinya tentu akan memuaskan. Untuk selanjutnya kita akan merasa biasa2 saja.
Terus apa kolerasi hukum Gossen ini dengan doa ? ini berbanding terbalik. Apabila sesuatu yang kita inginkan bisa kita capai kita tentu akan merasa senang dan perulangan pencapaian terkadang akhirnya mendatangkan kejenuhan. Tapi apa yang terjadi yang kita inginkan tidak tercapai ? pastinya akan menimbulkan rasa kekecewaan. Padahal kita sudah berusaha ditambah dengan doa yang tak pernah putus2nya.
Banyaknya orang yang kecewa kepada realita kehidupan. Yang tadinya one thing jadi nothing. Tadinya Hidup bergelimang harta tiba2 jatuh miskin tak punya apa2. Disisi lain si kaya yang hidupnya dari tilep sana tilep sini bisa tertawa terbahak2 dengan lebarnya. Pacar yang kecewa karena ditinggal selingkuh. Ibu yang sedih karena anaknya tidak bisa diatur. Ini adalah sebagian contoh orang2 yang kecewa pada kehidupan. Dan tak jarang kemudian kecewa kepada Tuhan. Mereka semua sampai kepada kesimpulan bahwa; berdoa itu tak perlu.
Buat apa capai berdoa jika tak bisa mengubah keadaan. Si miskin tetap melakoni kemiskinannya, sedangkan si kaya semakin bertahta. Berdoa, baginya, tidak membantunya mengatasi kesulitan hidupnya. Berdoa tak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Jadi perlukah berdoa?.
Sayang sekali. Pasalnya, mereka lupa meninjau kembali konsep doa. Kita sah2 saja memandang doa sebagai mantra magis untuk mengendalikan alam semesta, namun Tuhan tidak bisa dilihat sebagai kekuatan gaib yang harus tunduk pada seluruh kemauan kita. Dan jikapun kita diberi, bukan berarti Tuhan tunduk kepada kita.
Jika demikian kita memandang doa, maka doa kita mirip lampu aladin, dan Tuhan menjadi “jin”. Ketika kita berdoa, Tuhan harus keluar untuk bersimpuh di depan kita, “Tuan, katakan kehendak tuan”. Karena itu, ketika Tuhan tidak memenuhi kehendak kita, kita marah kepada-Nya. Kita kecewa dan segera membuang lampu Aladin itu. Alangkah rendahnya kita di mata Tuhan, bila memperlakukan Dia hanya sebagai jin dalam lampu Aladin.
Dan sebagaimana yang diungkap oleh Imam Ja’far Shadiq: “Bila anda ingin tahu posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar